PSI Sains dan Teknologi —Mahasiswa Program Studi Perpustakaan dan Sains Informasi Fakultas Sains dan Tenologi UIN Salatiga melaksanakan kegiatan literasi studi di kawasan Bromo Tengger sebagai bagian dari penguatan kompetensi akademik berbasis lapangan Rabu, 29/4/26.
Rombongan disambut baik dan hangat oleh kepala desa Ngadas dengan salam khas suku Tengger “Hong Ulun Basuki Langgeng”. Bapak Kastaman selaku lurah menyampaikan bahwa Masyarakat Ngadas memegang prinsip Bhineka Tunggal Ika dalam kesehariannya. “Perbedaan Adalah sebuah keindahan. Kebersamaan untuk saling mengagumi keindahan masing-masing sehingga tercipta keselarasan beragama.” Mengistilahkan bahwa Pelangi tidak akan pernah indah hanya dengan satu warna.
Sementara itu Romo Dukun Pandito, Romo Sasmito menggaris bawahi tentang kerukunan, kedamaian dan keamanan desa Ngadas. Mengistilahkan dengan Menyakiti orang lain berarti menyakiti diri sendiri. Semua dipegang taat dan patuh oleh masyarakat adat. Masyarakat Ngadas semua beragama Hindu dan 80 persen keseharian sebagai petani. Budaya gotong royong dalam Masyarakat dipegang teguh tanpa harus diminta. Bahkan Masyarakat yakin dan percaya akan adanya Kualat. Sebuah hukum karma yang terjadi bagi para pelanggar.

Kegiatan yang berlangsung selama tiga hari ini mengusung tema “Literasi, Budaya, dan Alam dalam Perspektif Informasi.” Para mahasiswa tidak hanya melakukan observasi lingkungan, tetapi juga menggali potensi literasi berbasis kearifan lokal masyarakat Tengger.
Ketua Prodi PSI, Suryanto menyampaikan bahwa kegiatan ini bertujuan untuk memperluas wawasan mahasiswa mengenai praktik literasi di luar ruang kelas. “Kami ingin mahasiswa memahami bahwa literasi tidak hanya berkaitan dengan buku, tetapi juga dengan budaya, tradisi, dan lingkungan hidup yang ada di masyarakat,” ujarnya.
Selama kegiatan, mahasiswa melakukan dokumentasi informasi budaya masyarakat setempat, wawancara dengan warga, serta penyusunan konten literasi berbasis digital. Mereka juga mengembangkan ide-ide pengelolaan informasi yang relevan dengan kondisi lokal, termasuk pengarsipan tradisi lisan dan penguatan literasi berbasis komunitas.
Selain itu, kegiatan ini menjadi sarana refleksi akademik sekaligus spiritual. Keindahan alam Gunung Bromo memberikan pengalaman belajar yang berbeda, menggabungkan antara ilmu pengetahuan, nilai budaya, dan kesadaran ekologis.
Dosen pendamping Marwanto menegaskan bahwa literasi studi semacam ini penting untuk membentuk mahasiswa yang adaptif dan kontekstual. “Mahasiswa harus mampu mengaitkan ilmu perpustakaan dan informasi dengan realitas sosial. Di sinilah nilai penting dari pembelajaran berbasis lapangan,” jelasnya.
Kegiatan ini diharapkan dapat menjadi agenda rutin program studi, sekaligus mendorong mahasiswa untuk lebih aktif dalam mengembangkan literasi berbasis riset dan pengabdian kepada masyarakat.