Salatiga— Fakultas Sains dan Teknologi (FST) UIN Salatiga sukses menggelar agenda strategis Curriculum Review untuk tiga program studi utama, yaitu Perpustakaan dan Sains Informasi (PSI), Sains Data, dan Teknik Informasi (TI). Peninjauan kurikulum ini menghadirkan dua pakar internasional asal Belgia, Prof. Ir. An Braeken, Ph.D. dan Prof. Ir. Maarten Dequanter, Ph.D., guna memperkuat fondasi keilmuan dan merespons pesatnya perkembangan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI).

Kegiatan yang berlangsung di ruang rapat Wahid Prime, Salatiga pada Jumat , 14 Agustus 2026 ini dihadiri oleh jajaran dekanat, para pengelola program studi, tim pengembang kurikulum, serta dosen pengampu mata kuliah pada 3 program studi di FST. Diskusi berfokus pada pentingnya penguatan logika matematika dan analytical thinking di tengah gempuran teknologi digital yang kian masif.
Profil Narasumber: Kolaborasi Pakar Matematika Terapan dan Robotika
Kedua narasumber membawa perspektif komplementer yang sangat relevan bagi transformasi pendidikan tinggi di FST:
Prof. Ir. An Braeken, Ph.D. (Pakar Matematika Terapan & Ilmu Komputer): Menyoroti pentingnya menjaga kedalaman teori matematika (pure & theoretical mathematics) yang diorientasikan pada penerapan industri (industrial science) serta penguatan logika sistem.
Prof. Ir. Maarten Dequanter, Ph.D. (Pakar Robotika, Engineering, & Programming Education): Menekankan aplikasi matematika dalam desain teknik, otomatisasi, pengembangan program, serta pemanfaatan kecerdasan buatan untuk menyelesaikan masalah nyata.
Matematika: Akar Keilmuan dan Tantangan Pembelajaran
Dalam pemaparannya, kedua narasumber menggarisbawahi bahwa seluruh sains dan teknologi modern—mulai dari Fisika, Kimia, Statistik, hingga Sains Data dan Teknik Informatika—berakar pada ilmu matematika. Matematika bukan sekadar hitungan angka, melainkan pondasi pola pikir analitis (analytical mindset).
Menanggapi fenomena bahwa matematika kerap menjadi “momok” bagi siswa di Indonesia, narasumber membandingkan dengan kurikulum di Belgia. Di sana, pendidikan sains dan matematika dasar diwajibkan minimal 6 jam per minggu guna memastikan fondasi berpikir logis terbangun kokoh sejak awal.
“Tingkat kedalaman matematika teori tentu dapat menjadi pilihan yang disesuaikan dengan minat serta kapabilitas mahasiswa. Namun, data analitis dasarnya wajib dimiliki oleh setiap lulusan sains dan teknologi,” ujar Prof. An Braeken.
Inovasi First-Year Project Work dan Sinergi Lintas Sektor
Untuk mengatasi kejenuhan dan memberikan pemahaman praktis, Prof. An mengusulkan skema Project Work di tahun pertama perkuliahan. Melalui proyek berbasis kasus nyata ini, mahasiswa diajak mengasah mathematical thinking dan analytical thinking secara hands-on.
Pendekatan ini juga bertujuan menekan angka kegagalan proyek (project failure) di masa depan melalui kolaborasi lintas disiplin ilmu serta kemitraan yang erat antara perguruan tinggi, pemerintah, dan industri.

Dilema Kecerdasan Buatan (AI): Antara Efisiensi dan Risiko “Halusinasi”
Sesi paling hangat terjadi saat mendiskusikan peran Generative AI dalam pendidikan. Prof. Maarten Dequanter mengungkapkan bahwa keberadaan AI dan tools pemrograman otomatis sangat efektif membantu efisiensi proses kerja.
“AI sangat membantu dalam mengefisiensikan pekerjaan. Namun, AI juga sering memunculkan ‘halusinasi’ jika diberikan instruksi (prompt) yang keliru. Kekhawatiran terbesarnya adalah mahasiswa menjadi malas berpikir analitis dan menyalahgunakan program tersebut. Di sinilah peran dosen sangat dibutuhkan untuk mengarahkan teknologi sebagai alat solusi tanpa mengorbankan fondasi pemahaman dasar.” — Prof. Maarten Dequanter, Ph.D.
Selain itu, Prof. Maarten juga mengingatkan bahwa lulusan FST harus dibekali kemampuan komunikasi yang unggul. Program studi yang baik bukan hanya menghasilkan pemrogram yang andal, melainkan lulusan yang paham apa yang ingin diselesaikan (know what they want) serta mampu mengomunikasikan solusinya secara efektif.

Komitmen FST: Modernisasi Kurikulum Tanpa Meninggalkan Teori
Sebagai penutup, Prof. An Braeken mendorong adanya revolusi bertahap pada sistem pendidikan sains dan teknologi. Pembaharuan kurikulum harus menyeimbangkan antara kekuatan teori dan fleksibilitas pembaruan keterampilan teknis (update skills).
Dekan Fakultas Sains dan Teknologi menyambut baik seluruh masukan dari kedua narasumber pakar internasional tersebut. Hasil dari Curriculum Review ini akan segera dirumuskan menjadi panduan pembaruan kurikulum pada Prodi Perpustakaan dan Sains Informasi, Sains Data, dan Teknologi Informasi guna mencetak lulusan yang berdaya saing global, analitis, dan adaptif terhadap perkembangan teknologi AI.
